Selasa, 01 Maret 2016

WAJAH BARU CASUAL TOURS MANDEH ISLAND

bismillah....semoga kawan yang membaca blogger kami ini,ada ke inginan hati untuk bergabung dengan kami dalam berangkat berwisata ria dengan gaya kami...kenyamanan anda yang kami utamakan








CASUAL TOURS MANDEH ISLAND



 
















 














Asal Mula Mandeh

Salah satu sungai dimandeh



Hamparan hijaunya perbukitan, dipadu dengan tepian pantai yang landai dengan airnya yang jernih dan lautnya yang biru ditambah riah ombak kecil yang bergulung beraturan menambah daya pesona Kawasan Wisata Mandeh. Sebuah objek wisata yang terletak di kecamatan Koto XI Tarusan dengan luas sekitar 8.632 ha. Kampung Mandeh salah satu kawasan wisata yang sangat potensial sekali dibidik menjadi arena wisata bahari kawasan pantai barat Sumatera.

Penduduknya yang ramah didukungan dengan pemandangan wisata pantai yang eksotik menjadi modal utama bagi kampung Mandeh untuk bangkit menjadi kawasan wisata bahari di kawasan pulau Sumatera. Konon, asal mula dari kampung Mandeh ini berasal dari seringnya para pedagang berdatangan ke daerah ini, baik dari darat maupun dari laut. Tapi sayang, disaat para pendatang tersebut bertamu ke kampung, dan hendak makan. Tidak satupun mereka temui kedai-kedai nasi. Tanpa pikir panjang para pendatang tersebut meminta makanan ke setiap rumah penduduk kepada seorang ibu di tiap-tiap rumah.

Nah, ibu inilah dalam bahasa Minang dinamakan dengan sebutan Mandeh. Seorang wanita lanjang, yang memiliki tingkah laku yang mulia. Diantara tugasnya ialah, menyediakan hidangan makanan bagi keluarga. Maka, dari situlah kampung Mandeh ini berasal. Peran seorang wanita lajang yang memiliki tingkah laku mulia dengan tanpa pamrih memberikan makanan kepada para pedagang dengan ikhlas.

Untuk mengabadikan kebaikannya, pendatang yang berdatangan ke kampung ini memberikan nama kampung tersebut, Kampung Mandeh. Kampung dimana akan ditemui keelokan seorang ibu. Hingga kini, keadaan itu masih mentradisonal di kawasan kampung Mandeh. Setiap datang wisatawan yang bertamu ke sini, pasti makannya bertamu ke rumah mandeh/ibu di setiap rumah penduduk.

Sampai saat sekarang kawasan mandeh dikenal dengan pepatah Minangnya

Pulau setan dilaman mandeh
Tampak nagari sungai Nyalo
Bagai intan dipaluik ameh
Loyak dituruik nak dibawo

Bahasa Indonesianya
Pulau setan di halaman Mandeh
Terlihat nagari sungai Nyalo
Seperti intan dibalut emas
Layak dikunjungi untuk dibawa


Pepatah Minang diatas, menggambarkan keeksotikan kampung Mandeh. Pesona alam yang dimiliki bagaikan intan dibalut emas. Kampungnya yang di kelilingi bukit batu, kawasan darat yang dihadapan pada sebuah pantai berpasir putih berlaut hijau, dengan riak air laut yang tenang. Menjadi daya tarik tersedir bagi wisatawan berkunjung ke kampung ini.

Tak sekadar itu, kampung Mandeh di kelilingi pula oleh hutan bakau/mangrov, yang menjadi pagar bagi kampung ini disaat pasang naik. Susunan bakau yang berjejeran di sepanjang jalan membuat mata enak memandang. Walau hanya, sebagai kampung, kawasan wisata di kampung Mandeh ini telah memiliki jalan yang beraspal beton. Hal ini, tentunya menjadi semangat bagi wisatawan untuk berwisata di pantai Mandeh.

Eksotik pantai Mandeh tidak saja diperlihatkan dari alamnya semata. Jika berkunjungn ke daerah ini, kita akan disambut dengan jejeran rumah penduduk yang dikelilingi oleh genangan air laut dan pohon mangrov. Ini tentunya menjadi pemandangan yang aduhai untuk dinikmati bola mata. Apalagi sudah memasuki kawasan pantai yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kampung Mandeh.

Tak, asik rasanya berkunjung ke kawasan ini, tanpa menikmati makan khas kampung Mandeh. Paling tidak kita bisa mencicipi makan tersebut di rumah Mandeh/ibu. Diantara makan yang menjadi andalan bagi kampung Mandeh yang disajikan buat wisatawan yaitu, Randang Lokan, Kalio Timo dan Kalio Lokan. Randang, lokan sendiri memiliki cita rasa yang khas jika dibandingkan dengan masakan randang lainya. Masakan ini, terbuat dari kelapa dengan dicampur daging lokan. Beda dengan rendang biasa yang dimasak dengan daging sapi, kambing atau itik.

Kalio Timo, juga tak kalah sedapnya. Masakan ini, bisa kita dapat di sepanjang pantai Mandeh. Masakan dengan sajian utama timo laut ini dimasak berkuah. Nah, ini asik santap dengan nasi di tepi pantai Mandeh, sembari menikmati riak-riak kecil air laut dengan sepoian angin yang dikipas pohon kelapa.

Tak salah pesona bahari yang diperlihatkan kampung Mandeh membuat para wisatawan menyebutnya dengan julukan "The Paradise of The South". Mandeh yang kokoh dengan gugusan pulau-pulaunya bagaikan terapung di atas permukaan laut. Kawasan Wisata Mandeh berpotensi untuk kegiatan diving, snorkeling, sunset,windsurfing, trekking, rock climbing, ski air, jet ski, camping dan kegiatan wisata lainnya yang bakal membuat anda tak ingin meninggalkannya.
MITOLOGI
Rakyat Kampung Mandeh Dekat dengan Harimau
Konon, tampek (bukit batu) ini menjadi pelindung bagi masyarakat Mandeh.
Jika bertamu ke kampung Mandeh, janganlah kita pernah sesekali untuk mencaci atau menyindir kawasan tersebut. Kenapa?. Kampung Mandeh dikenal sebagai kawasan yang kramat. Menurut legenda rakyat, kampung ini di pagar oleh tigo Paga Tampek (tiga bukit batu). Konon, tampek ini menjadi pelindung bagi masyarakat setempat.

Jika ada orang yang melakukan perbuatan jahat di kawasan ini seperti mencuri, pastilah si pencuri tersebut, tidak akan tau jalan keluar dari kampung Mandeh. Selain itu tampek ini juga menjadi tanda bagi masyarakat setempat untuk melihat gejala-gejala alam. Jika ada gempa, badai, air laut pasang dan lain sebagainya pasti tampek ini mengerluarkan bunyi malam harinya. Bunyi yang dikeluarkan seperti batu mau jatuh yang berderik-derik. Jika, ada pendatang yang salah bicara, dengan maksud jahat, jangan harap akan lepas dari ganguan mahklup halus. Karena, itu jika masuk kawasan ini mesti santun dan ramah.

Tak hanya itu, kawasan mandeh juga sering dimasungki binatang buas jenis harimau. Menurut penuturan warga setempat, harimau tersebut masuk, saat ia melihat harimau dari daerah lain yang masuk dengan tujuan ingin berbuat jahat, seperti memakan makan ternak, menakuti warga dan lain sebagainya. Harimau di kawasan sekitar bukit di kampung Mandeh inilah, yang melindungi warga dari cengkraman harimau jahat. Disamping, itu harimau yang menjadi dewa pelindung bagi warga ini, juga sering menampak badannya. Penuturan rakyat kampung Madeh, harimau tersebut datang untuk diobati. Kadang, harimau itu sakit perut, berpanu dan luka-luka.

"Dia itu cuma datang saja ke rumah penduduk dengan tenang tanpa ada gerak mengganggu. Itu menandakan, harimau tersebut membutuhkan pertolongan. Nah penduduk disilah yang mengobati keluhannya. Kadang saat, diobati harimau tersebut tak tergangung jika dipegang atau dielus-elus warga", tutur uni parida salah seorang warga kampung Mandeh.

CASUAL TOURS MANDEH ISLAND ( SEJARAH MANDE RUBI'AH)

Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)

Dalam hal ini, pada serangkaian cerita Cinduamato, tersebutlah nama Bundo Kandung sebagai ibu dari Dang Tuangku. Akan halnya Bundo Kanduang yang seiring disebut ujud seorang perempuan dalam kerajaan Minangkabau. Barangkali ini merupakan sebuah ungkapan terhormat kepada seorang wanita. Seperti tersebut dalam kisah Cindurmato, suatu kali cucu Raja Mauliwarman Dewa, datang ke Luhak nan Tuo, Tanah Datar. Mereka adalah tiga kakak beradik, yang tua Kambang Daro Marani (14 tahun), Indo dewa ( 12 tahun) dan yang bungsu Kambang Daro Bandari (10 tahun). Kunjungan mereka ini, disertai para dubalang dan inang pengasuh yang seluruhnya berjumlah 45 orang. Salah seorang yang terkenal dalam rombangan ini adalah Andiko Panjang Gombak (45 tahun), yang bertugas sebagai kepala rombongan dan sekaligus pengawal setia tiga kakak beradik tadi. Melihat indahnya alam, bersahabatnya masyarakat, maka timbullah hasrat dari tiga kakak beradik ini, untuk menetap di ranah bundo. Keinginan itu disampaikan oleh Andiko Panjang Gombak di dalam pertemuan Limbago Alam di Balai Adat Datuak Bandaro Sungai Tarab. Pertemuan ini membawa arti penting terhadap gerak langkah perjalanan sejarah Minangkabau selanjutnya. Musyawarah Limbago Alam yang dihadiri, oleh seluruh anggota perwakilannya di Sungai Tarab ini membuahkan tiga butir mufakat, yaitu: Petama. Basa Tigo Balai dikembangkan menjadi Basa Ampek Balai terdiri dari, Datuak Bandaro dari Sungai Tarab sebagai Payung Panji Koto Piliang, Datuak Indomo dari Saru Aso sebagai Amban Purut Koto Piliang , Tuan Gadang dari Bhakti Sapuluah sebagai Harimau Campo Koto Piliang, dan Datuak Makhudum dari Sumaniak sebagai Pasak Kunci Koto Piliang. Kedua. Limbago Alam menunjuk Andiko Panjang Gombak sebagai ketua kehormatannya. Ketiga. Kambang Daro Marani, Indodewa dan Kambang Daro Bandari, sebagai anak kemanakan Limbago Alam, akan dibangunkan sebuah rumah gadang di Gudam Kambang Bungo (Pagaruyung). Hasil mufakat Limbago Alam ini, disampaikan pula kepada Majilih Kerapatan Adat Alam Minangkabau pada pertemuannya di Medan Taduah Bukit Gombak. Semua anggota perwakilan Majilih menyetujui dan merestui keputusan Limbago Alam tersebut. Setehun setelah tiga kakak beradik itu tinggal di Luak nan Tuo, rumah gadang atau istano yang dibangun di ranah Kambang Bungo, telah berdiri dengan megahnya. Seluruh bahan bangunannya, adalah sumbangan masyarakat Luhak nan Tigo. Di halamannya berderet pula tiga rangkiang dengan anggun. Perlengkapan rumah gadang seperti lapik baludu, kelambu suto, cawan dan pinggan, cibuk dan bermacam perhiasan mas dan intan dihadiahkan oleh dangsanak belahan diri yang bermukim di pesisir dan rantau. Tujuh tahun kemudian, Andiko Panjang Gombak mendapat kecaman dari bebagai lapisan masyarakat Minangkabau. Saat itu Kambang Daro Marani yang sedang menginjak umur 21 tahun, dinikahi oleh Andiko Panajang Gombak secara diam-diam tanpa diumumkan secara adat kepada kalayak ramai. Sewaktu Kambang Daro Marani hamil tiga bulan, masyarakat melalui limbago-limbago adatnya menuduh Andiko melakukan perbuatan yang tidak senonoh yang melanggar adat. Andiko membela diri. Dia mengatakan pernikahannya dilakukan di Bhakti Sapuluah, di istano Tuan Gadang secara resmi. Limbago adat tetap pada pendirian mereka: Andiko dianggap bersalah karena melakukan pernikahan tidak bersuluh matahari dan bergelanggang mata orang banyak, sebagaimana ditetapkan oleh adat. Sebelum hukuman dijatuhkan, Andiko menebus kesalahanya di lapangan Bukit Gombak dengan memotong sepuluh ekor kerbau untuk menjamu perwakilan Limbago Adat dan seluruh anak nagari yang berkenan hadir. Pada saat itu secara tulus Andiko mengakui, bahwa dia telah berbuat sumbang karena melanggar aturan adat. Selanjutnya bersamaan dengan penyesalan Andiko, masyarakat Minangkabau pun memberikan maaf dengan tulus pula. Hasil pernikahan ini kemudian melahirkan Romandung yang bergelar Dang Tuanku. Akan tetapi, empat belas bulan kemudian, Andiko Panjang Gombak kembali melakukan kesalahan yang sama. Dia secara diam-diam juga menikahi Kambang Daro Bandari, adik kandung Kambang Daro Marani. Limabago Adat dan rakyat kembali marah besar kepada Andiko. Panjang Gombak dinilai tidak lagi bertingkah laku sesuai alur dan patut. Pada masa itu, di Minangkabau sekalipun belum diliputi agama Islam, masyarakat sangat menentang jika seorang laki-laki mengawini dua perempuan kakak beradik yang masih sama-sama hidup. Masyarakat tidak lagi melihat Andiko Panjang Gombak sebagai seorang yang berpijak di bumi Ranah Minang, karena itu dia harus dibuang sepanjang adat. Andiko kembali membela diri. Dia menjelaskan, bahwa perbuatannya tersebut disokong oleh Kambang Daro Marani demi melanjutkan keturunan di istano Pagaruyung. Dan Andiko juga meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan sudah seizin tetua adat di Darmasraya. Akhirnya, Andiko kembali mengsisi adat. Kali ini di istano Pagaruyung jamuan makan seperti dulu dilangsungkan. Limbago Adat pun kembali memaafkan Andiko dengan perinsip: Salah kepda manusia minta maaf, salah kepada adat mengisinya. Akan tetapi, sehari setelah upacara adat itu selesai Indodewa, yang satu-satunya laki-laki dari tiga bersaudara, meninggalkan Pagaruyung menuju Darmasraya dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi. Namun, sebagaimana diceritakan, dari pernikahan inilah lahirnya Cidurmoto. Setelah sama-sama melahirkan anak dari Andiko Panjang Gombak, Kambang Daro Marani berubah nama jadi Bundo Kanduang dan Kambang Daro Bandari jadi Bundo Kambang. Lebih kurang 23 tahun kemudian, perang pun berkecamuk antara pasukan Imbang Jayo dari Sungai Ngiyang –sebuah kerajaan kecil di Selatan Minangkabau, dengan tentara Pagaruyung. Pertikaian yang tak kunjung berkesudahan ini, dipicu oleh api cemburu yang selalu membakar hati Imbang Jayo yang gagal mempersunting Puti Bungsu, tersebab gadis itu dilarikan oleh Cindurmato anak Raja Pagaruyung. Ayah dari Imbang Jayo yang bernama Raja Tiang Bungkuk dari Kerajaan Sungai Ngiyang, juga mendukung dendam si anak. Pagaruyung pun akhirnya menuai badai. Sesaat perang kelihatan seperti reda. Tibalah masanya, empat anggota Basa Ampek Balai, berlima dengan Tuan Gadang di Batipuah, duduk bersila di bagian tengah ruangan balairung, istano Pagaruyunag. Bundo Kanduang dan Bundo Kambang telah duduk pula bersimpuh dilantai anjung ujung utara. Di kiri kanan mereka duduk bersila Romandung dan Cindurmato. Cindurmato baru saja kembali dari Inderapura dua hari sebelumnya. Bersama Cindurmato ikut empat lusin pemuda Inderapura. Dalam pertemuan itu, sembah kata belum kunjung bersilang. Mereka masih diam sambil menikmati sekapur sirih yang terkunyak dimulut masing-masing. Adanya pancaran haru dan kentaranya silang-siur kerut-merut di wajah Bundokanduang, membuat hati anggota Basa Ampek Balai ikut terenyuh. Tambah lagi sikap Bundo Kambang, Romandung dan Cindurmato yang muram, tidak seperti biasa, telah membuat suasana balairung itu bertambah suram. Saat itu kepada Basa Ampek Balai, Bundo Kanduang mengatakan, bahwa dia akan pergi jauh dari Pagaruyung. Bila kelak rakyat Minangkabau mempertanyakan kemana mereka pergi, maka katakanlah, bahwa mereka suduah mengirap ke langit. Mande Rubiah Tersebut dalam satu versi sejarah, bahwa melihat gelagat Adityawarman yang ingin memerintah secara otoriter di Minangkabau, maka keluarga Raja Pagaryung memprotesnya secara keras. Bentuk protes ini, adalah dengan mengirab (pindah total) dari daerah asal menuju sebuah persembunyian. Dalam versi sejarah ini, masyarakat Nagari Lunang, Pesisir Selatan, mengatakan, bahwa keluarga raja yang mengirab itu, adalah keluarga Mande Rubiah yang kini mempunyai istana khusus di daerah itu. Pembenaran ke arah ini, diperkuat dengan beberapa bentuk peninggalan bersejarah. Seperti adanya benda-benda kerajaan yang tersimpan rapi di rumah Mande Rubiah hingga kini. Selain benda pusaka dari piring cawan hingga senjata perang itu, juga terdapat di sekitar rumah Mande Rubiah, perkuburan tua. Pada perkuburan itu konon, dimakamkan Bundo Kanduang dan anaknya Dang Tuangku beserta istrinya Puti Bungsu. Selain itu disekitar rumah Mande Rubiah juga terdapat, kuburan Cindua Mato, yang dikenal dalam legenda Minang sebagai seorang parewa yang ahli siasat perang. Mungkin nama Dang Tuangku dan Cindua Mato serta Puti Bungsu tidak pernah ada dalam silsilah keturunan Raja Pagaruyung, seperti diakui oleh salah seorang pewaris Kerajaan Pagaruyung, Putri Reno Raudha Taib. Akan tetapi pembenaran yang dipakai versi ini, niat semula dari serumpun keluarga ini untuk mengirab, yaitu untuk menghilangkan sekalian jejak, supaya kemana mereka pergi tidak diketahui oleh Adityawarman orang yang tidak mereka sukai. Dilihat dari kubur Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan Puti Bungsu yang ada di nagari Lunang, itu semuanya seperti kuburan orang Islam, membujur ke utara dan selatan menandakan menghadap kiblat. Keadaan ini juga bisa dihubungkan dengan kebencian sekelompok keluarga kerajaan ini kepada Adityawarman karena mereka tidak seagama. Sebab dalam sejarah dikatakan, adityawarman adalah penganut Budha Mahayana, orang yang suka dengan kekerasan. Perhitungan Tahun Akan tetapi dalam sejarah dan Tambo Adat Minangkabau, disebutkan. Adityawarman berada di Pagaruyung sekitar 1339-1376. Anaknya, Ananggawarman yang masih beragama Budha memerintah (1376). Setelah itu barulah Sultan Bakilap Alam menjadi Raja Pagaruyung, sampai pada Sutan Usman, 1943 selaku (Kepala Kaum Keluarga Raja Pagaruyung). Jika dilihat pula keterangan yang disampaikan oleh Barkat, seorang keluarga Mande Rubiah, hingga kini keberadaan Mande Rubiah di Lunang, baru keturunan ke tujuh. Jika keturunan keluarga ini berumu masing-masing 50 tahun, maka perhitungannya baru sampai pada tahun 1600-an. Dalam hal ini jelas ada perhitungan sejarah yang tercecer. “Untuk menghimpun sejarah Minangkabau yang penuh dengan makna, ini jelas tugas bersama untuk mempertautkannya. Sebab, sejarah suatu bangsa bukanlah terletak pada pundak satu angkatan saja, tetapi terletak di setiap pundak angkatan yang datang silih berganti dan bertukar tiap sebentar. Tugas kita semualah untuk mencarinya,” kata Abdul Hamid, salah seorang pemuka adat dari Nagari Pariangan selaku nagari tertua di Minangkabau. Akan halnya Mande Rubiah, kalaulah bukan karena dibuka jalan lintas Sumbar Bengkulu dan transmigrasi di Lunang, maka tabir sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah tidak akan ditemukan. Salah satu bukti sejarah yang ada hubungannya dengan Pagaruyung itu baru diketahui masyarakat secara luas, baru pada tahun 1960-an. Sebelumnya, boleh dikatakan hanya masyarakat Nagari Lunang dan sekitarnya saja yang tahu kalau yang menghuni rumah gadang itu adalah keturunan Bundo Kanduang.. Siapa Bundo Kanduang kenapa dia sampai ke Lunang? Inilah sebuah pertanyaan yang hingga sekarang belum mendapat jawaban yang memuaskan sebagai acuan bagi generasi berikutnya. Jika memang Bundo Kanduang itu identik dengan Mande Rubiah yang ada di Lunang ini kita harus membuktikan apa yang diwarisinya sekarang, apakah berasal dari Pagaruyung atau ada kesamaan dengan Pagaruyung. Semua itu masih perlu pembuktian.

berwisata kesumbar bareng CASUAL TOURS MANDEH ISLAND



Senin, 29 Februari 2016

































Pulau Marak – Sekilas

marakPulau Marak secara administrasi terletak di daerah Kecamatan Koto IX Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tepatnya di desa Nagari Sungai Pinang. Di kawasan pulau ini juga terdapat gugusan pulau lainnya, seperti pulau Pagang, Karanggo dan beberapa pulau lainnya. Pulau ini sendiri tidak berpenghuni, hanya sebagai tempat singgah nelayan. Tipe pulau ini berbukit dengan kondisi pantai berpasir putih, sehingga apabila cuaca cerah maka bisa di katakan teman – teman bisa melihat sebuah pulau yang luar biasa. Menurut sumber yang saya baca di uncle google, luas dari pulau ini sekitar 500 Hektar, tapi kalau di liat di goggle earth lumayan besarlah. Alam yang tenang membuat kita bakal terus berulang kemari.

Pulau Marak – Perjalanan

DSC_0640_resizePerjalanan saya ke pulau ini sama dengan sebelumnya. Bermodal motor Kharisma 125 tahun 2005, saya berdua teman saya memulainya dari Kota Pekanbaru. Perjalanan menggunakan motor ini adalah hal yang menantang bagi saya dan mencoba daya tahan tubuh dan motor dalam perjalanan jauh. Memang bisa di katakan saya tidak langsung ke pulau. Dari Pekanbaru berangkat malam, menginap terlebih dahulu di Matur (Kab. Agam), lalu subuhnya melajutkan perjalanan untuk ke Pulau Marak. Banyak akses untuk ke pulau Marak dengan berbagai macam harga dan keunggulan yang di dapat. Karena kami cuma berdua, saya mengurungkan niat untuk naik dari Nagari Sungai Pinang, padahal kalo ramai, 5 orang saja, kita bisa menyewa perahu nelayan dengan harga terjangkau, 100 – 200 ribu/ hari. Saya akhirnya kembali ke tempat teman saya di Losmen Carlos di daerah Bungus. Bisa di katakan saya sudah berulang kali menggunakan jasa dari Maike pemilik losmen tersebut. Di losmen ini menawarkan jasa paket one day tour ke Pulau Pagang dan Pamutusan dengan harga Rp. 225.000. Dengan harga segitu teman – teman sudah dapat makan siang, bermain banana boat, biaya penyebrangan PP, snorkling, snack, photo bawah laut dan banyak lainnya. Nah, kali ini saya bukan ke pulau pagang dan pamutusan, jadi telebih dahulu saya kondisikan dengan Maike. Setelah deal menambah beberapa rupiah, kami pun langsung berangkat, dengan syarat mengantar terlbih dahulu teman – teman yang sudah dulu ingin ke Pulau Pagang dan Pamutusan. Setelah hampir 1 jam sampailah di Pulau Pagang. Setelah menurunkan teman – teman disini, saya berdua dengan teman yang dari Pekanbaru melanjutkan perjalanan ke Pulau Marak. Jarak yang di tempuh lebih kurang 20 menit. Berbeda dari perjalan sebelumnya, ternyata ombak untuk ke Pulau Marak lumayan tinggi. Saya sempat beberapa kali istigfar dan mengucap, karena ini pengalaman ekstrem pertama kali. Beda halnya dengan bapak yang membawa boat kami, dengan duduk santai seperti tidak ada masalah hahaha. Oh iya info yang lain, pulau ini sejak 2003 menjadi pusat konservasi Siamang yang di kelola oleh Yayasan Kalaweit dari Prancis. Kontraknya sendiri 10 tahun, dan 2013 akhir kemarin menjadi batas waktu konservasinya. Selain siamang Pulau Marak dihuni beberapa fauna lain, puluhan jenis burung, kupu – kupu, reptil, kura – kura darat, labi – labi, amfibi & babi hutan.

Pulau Marak – Kegiatan

DSC_0612_resizeWhoaaaaaaaa !!!! Takjub, beberapa ratus meter menjelang sampai di pulau, saya melihat sebuat pemandangan yang luar biasa. Pemandangan sebuah pulau dengan pasir putih landai yang menawan. Ini pulau perawan !!! yah sebenernya perawan atau ngga itu cuma ekspresi kegembiraan saya. Begituhalnya dengan ifan, teman saya dari Pekanbaru ini juga langsung bersiap – siap untuk loncat. Saya pun tak kalah semangatnya, dengan segera setelah merapat, saya langsung berbaring menikmati suasana alam di pulau ini, walaupun terik. Nyaman… ya itu yang bisa saya katakan, pulau ini nyaman, suara derus ombak, suara pepohonan dan nyanyian burung – burung di pulau ini membuat saya terlena, sampai Ifan mengagetkan saya untuk segera berfoto. Alhasil saya dan ifan berfoto ria di pulau ini. Setelah bebrapa kali ambil foto, tiba tiba kami di kejutkan ketika perahu yang saya tumpangi berjalan aga ke tengah, saya sempat panik, namu ternyata bapak yang punya perahu hanya ingin tidur siang di posisi yang nyaman. Huff.. mengagetkan saja. Selanjutnya tentu saja yang harus di nikmati adalah pemandangan bawah laut pulau ini. Wow, bening dan jernih. nampak terumbu terumbu karang, ikan – ikan yang lalu lalang dan juga saya menemukan bintang laut aneh, besar dan berwarna biru. Atau mungkin saya saja kali yang tidak mengenal hewan – hewan bawah laut. Setelah puas, kami melanjutkan dengan makan siang dengan nasi kotak yang sudah di siapkan sebelumnya. Ingin rasanya bermalam disini, sayangnya kami tidak mempersiapkannya dengan matang. Tak terasa sudah pukul 2, dari jam 9 tadi pagi. Saatnya kembali ke Pulau Pagang, agar teman – teman yang pergi bareng tidak curiga hahaha. Perjalanan pulang ternyata ombak lebih naik lagi, untung saya sudah membuka kaos, sehingga sewaktu di perahu tidak susah lagi membuka kaos. Sampai di pagang kami basah kuyub karena ombak (mandi).

Pulau Marak – Go Home

Setelah seharian bermain di marak, lanjut ke Pulau Pagang dan Pamutusan. Sebenarnya Pagang bukan merupakan pulau yang baru buat saya. Pulau ini sudah beberapa kali saya singgahi, selain menemani teman – teman yang belum pernah ke pulau ini. Ifan yang notabene belum pernah ke Pulau, tetap tidak menyianyiakan kesempatan untuk berfoto, sambil lihat – lihat anak gadis orang hahaha. Sayangnya yang ada bule cowok :ngakak. Tapi tetap ada anak gadis yang Indonesia kok. Setelah puas di Pulau Pagang, kami melanjutkan ke Pulau Pamutusan. Pulau yang berada di seberang pulau pagang. Dan sama halnya di pulau pagang, ifan tetap melanjutkan aktifitasnya untuk berfoto, demikian juga saya. Ada yang baru di pulau pamutusan ini, ada dermaga baru. Sehingga pulau ini terlihat lebih menarik. Di pulau pamutusan ini juga saya sempatkan menemankan Ifan untuk mendaki sampai bukit di pulau ini. Setelah berfoto, tibalah waktu kami untuk menyelesaikan kegiatan hari ini. Cuaca yang mulanya terik tiba – tiba berubah menjadi mendung. Setelah sampai di Losmen saya segera menyelesaikan administrasi dan beranjak segera pulang. Di Perjalanan kami mandi lagi.. ya mandi hujan.. namun kami sigap dengan membawa mantel. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dengam keindahan laut & aneka ragam flora fauna, Pulau Marak layak disebut sebagai “Surga dari Selatan
DSC 0543 resize DSC 0555 resize DSC 0556 resize
DSC 0558 resize DSC 0561 resize DSC 0562 resize
DSC 0586 resize DSC 0589 resize DSC 0590 resize
DSC 0595 resize DSC 0596 resize DSC 0597 resize
DSC 0607 resize DSC 0611 resize DSC 0615 resize
DSC 0624 resize DSC 0633 resize DSC 0637 resize
DSC 0640 resize DSC 0645 1 resize DSC 0684 resize
DSC 0703 resize